Beberapa transformasi peran krusial yang menjadi fokus utama PGRI meliputi:
Guru sebagai Fasilitator Kolaborasi: Kelas digital menuntut kemampuan guru untuk membangun jaringan kerja sama antar-siswa, baik secara daring maupun luring.
PGRI melakukan langkah-langkah sistematis untuk memandu anggotanya melewati masa transisi peran ini melalui tiga pilar aksi:
Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI melatih guru untuk menjadikan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai asisten personal. Guru diajarkan cara mengotomatisasi tugas administratif agar memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara personal dengan siswa.
Perubahan peran menuntut beban mental yang lebih besar. PGRI aktif menyuarakan agar transformasi digital ini dibarengi dengan penyederhanaan beban kerja administratif serta jaminan perlindungan hukum bagi guru dalam menjalankan inovasi-inovasi pendidikan yang berani.
[Ilustrasi: Sinergi Guru dan Teknologi — Teknologi sebagai Mesin, Guru sebagai Kemudi dan Hati]
PGRI menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, ia tidak memiliki “rasa”. Guru di era digital harus menjadi sosok yang mampu membaca kegelisahan siswa, memotivasi yang patah semangat, dan memberikan sentuhan afeksi yang tidak dimiliki oleh mesin.
“Teknologi mungkin bisa menggantikan guru yang hanya mengajar fakta, tetapi teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan guru yang menginspirasi harapan dan menanamkan cinta pada pembelajaran.”